Monday, October 13, 2014

Etiologi KIPI

Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh karena itu unutk menentukan KIPI diperlukan keterangan mengenai:
1.      Besar frekuensi kejadian KIPI pada pemberian vaksin tertentu
2.      Sifat kelainan tersebut lokal atau sistemik
3.      Derajat sakit resipien
4.      Apakah penyebab dapat dipastikan, diduga, atau tidak terbukti
5.      Apakah dapat disimpulkan bahwa KIPI berhubungan dengan vaksin, kesalahan produksi, atau kesalahan prosedur
KN PP KIPI membagi penyebab KIPI menjadi 5 kelompok faktor etiologi menurut klasifikasi lapangan WHO Western Pacific (1999), yaitu:
1.      Kesalahan program/teknik pelaksanaan (programmic errors)
Sebagian kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi, misalnya:
·         Dosis antigen (terlalu banyak)
·         Lokasi dan cara menyuntik
·         Sterilisasi semprit dan jarum suntik
·         Jarum bekas pakai
·         Tindakan aseptik dan antiseptik
·         Kontaminasi vaksin dan perlatan suntik
·         Penyimpanan vaksin
·         Pemakaian sisa vaksin
·         Jenis dan jumlah pelarut vaksin
·         Tidak memperhatikan petunjuk produsen
Kecurigaan terhadap kesalahan tata laksana perlu diperhatikan apabila terdapat kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang sama.
  1. Reaksi suntikan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope.
  1. Induksi vaksin (reaksi vaksin)
Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaksis sistemik dengan resiko kematian. Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi dengan baik dan tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen sebagai indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atauberbagai tindakan dan perhatian spesifik lainnya termasuk kemungkinan interaksi obat atau vaksin lain. Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh pelaksana imunisasi.
  1. Faktor kebetulan (koinsiden)
Seperti telah disebutkan di atas maka kejadian yang timbul ini terjadi secara kebetulan saja setelah diimunisasi. Indicator faktor kebetulan ini ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakterisitik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi.
  1. Penyebab tidak diketahui

Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan kedalam salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan kedalam kelompok ini sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya denagn kelengkapan informasi tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.

Thursday, September 25, 2014

Abortus Insipiens

ABORTUS INSIPIEN
A.    Pengertian
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, yaitu sebelum usia kehamilan 28 minggu dan sebelum janin mencapai berat 1000 gram.
Abortus insipien adalah abortus yang sedang mengancam di mana telah terjadi pendataran serviks dan osteum uteri telah membuka akan tetapi hasil dari konsepsi masih berada di dalam kavum uteri.
Abortus insipien yaitu peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. (wiknjosastro, 2002 :305 )

B. Etiologi 
1.      Kelainan ovum
Menurut Hertig dan kawan-kawan, pertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus spontan, menurut penyelidikan mereka dari 1000 abortus spontan maka 48,9% disebabkan karena ovum yang patologis. 3,2% disebabkan oleh kelainan letak embrio dan 9,6% disebabkan oleh plasenta yang abnormal. 6% diantaranya terdapat degenerasi hidatid vili. Abortus spontan yang dikarenakan kelainan ovum berkurang kemunngkinannya jika kehamilan lebih dari 1 bulan, artinya makin muda kehamilan saat terjadinya abortus, makin besar kemungkinan disebabkan oleh kelainan ovum.
2.      Kelainan genetalia ibu
Misalnya pada ibu yang menderita :
• Anomaly kongital (hipoplasia uteri)
• Kelainan letak dari uterus, seperti retrofleksi uteri fiksata
3.      Gangguan sirkulasi plasenta
Di jumpai pada ibu yang menderita penyakit seperti hipertensi, nefritis
4.      Penyakit-penyakit ibu, misalnya: penyakit infeksi yang dapat menyebabkan demam tinggi seperti tipoid, pneumonia
5.      Antagonis rhesus
Yaitu pada antogonis rhesus darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus sehingga terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus
6.      Rangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi, misal: terkejut, ketakutan, obat-obatan dan lain-lain.
7.      Penyakit bapak : umur lanjut, penyakit kronis seperti TBC, anemi dan lain-lain.

C. Patologi
Pada permulaan terjadi pendarahan dalam desidua basalis diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian hasil konsepsi terlepas karena dianggap benda asing, maka uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan dibawah 8 minggu hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya karena vili korealis belum menembus desidua basalis terlalu dalam, sedangkan pada kehamilan 8-14 minggu telah masuk agak dalam sehingga sebagian keluar dan sebagian tertinggal karena itu akan banyak terjadi pendarahan.

D. Tanda dan gejala
• Perdarahan lebih banyak
• Perut mules (sakit) lebih hebat dikarenakan kontraksi rahim kuat
• Pada pemeriksaan dijumpai perdarahan lebih banyak, kanalis servikalis terbuka dan jaringan/ hasil konsepsi dapat diraba.
Gambaran klinik :
Apabila setelah abortus pendarahan makin banyak dan disertai rasa mules yang semakin sering semakin kuat dan semakin dirasakan sakit disertai dilatasi servik. Hasil konsepsi seluruhnya masih berada di dalam kavum uteri. Dengan semakin kuatnya kontraksi uterus serviks terbuka dan semakin banyak pendarahan dan pada suatu ketika hasil konsepsi terdorong keluar dari kavum uteri.

E. Tindakan yang dilakukan pada abortus insipiens
• Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberikan morfin
• Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya di sertai dengan perdarahan, dan pengosongan uterus memakai kuret vakum, disusul dengan kerokan memakai kuret tajam, dan suntikan ergometrin 0,2 mg IM.
• Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU dalam dextrose 5% 500 ml dimulai 8 tetes permenit dan naikkan sesuai kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
• Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual.

F. Komplikasi
• Anemi oleh karena perdarahan
• Perforasi karena tindakan kuret
• Infeksi
• Syok pendaran atau syok endoseptik
Resusitasi cairan hendaknya dilakukan terlebih dahulu dengan NACL atau RL disusul dengan transfusi darah

G. Hal-hal yang harus diperhatikan ibu hamil saat terjadi pendarahan pada trimester I
• Jika pendarahan sedikit, seperti bercak-bercak darah pada menstruasi, maka dianjurkan untuk ibu hamil agar beristirahat tirah baring
• Jika perdarahan semakin lama semakin banyak, maka lebih baik periksakan segera ke rumah sakit.


Referensi :
Arias F. Early Pregnancy Loss. In Practical Guide to High Risk Pregnancy and Delivery. St lois, Mosby Year Book, 1993.
Manuaba, ida bagus Gde. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obestetri, Ginekologi dan KB. Copy editor, Lia Astika Sari. – Jakarta: EGC, 2001
Cunningham FG, Macdonald PC,Gant NF. Abortion. IN Williams Obstetrics. Ed. Appleton Lange, 1997